Belajar Menerima Pahit Dari Kopi

Pagi ini, sambil menyeduh Kopi Kepahiang Petik Merah yang konon diambil dari biji kopi yang matang di pohon itu, aku didatangi sebuah kesadaran…

… Kesadaran atau pencerahan ini berhubungan erat dengan ‘kepahitan’ dalam hidup, dan bagaimana kita belajar menerimanya.

Tapi kali ini, kepahitan itu terwujud dalam kopi tanpa gula.

~

Salah satu #Wishlist2020 yang aku tulis kemarin adalah; ingin belajar minum kopi pahit.

Serius. Aku ga main-main.

Sebenarnya, beberapa kali aku bersentuhan dengan kopi pahit, yang kuingat itu dulu aku diajak ngafe di Padang oleh seorang sahabat bersama Tomi.

Waktu itu aku pesan Cappucino, dan dia pesan kopi pahit, entah apa namanya.

Waktu kutanya, kok ada sih orang yang mau minum kopi pahit?

Dia menjawab kira kira begini;

“Penikmat kopi sejati itu harus bisa merasakan kopi murni tanpa campuran. Inilah aslinya kopi, pahit, sekali sruput langsung nyerang ke kepala bagian belakang.”

Aku pun mengangguk-angguk sambil menyeruput Cappuccinoku yang lezatnya bukan kepalang.

~

Ingatanku beranjak ke pertemuan di sebuah cafe di Depok, di daerah Cilodong tepatnya.

Aku kesana karena ingin menyambut guru-guruku dari Padang yang sedang ada acara di Bandung, lalu pulangnya mampir ke Depok.

Saat masuk, basa-basi sedikit, akupun bertanya kepada pemilik cafe yang selain seorang Maestro Kopi, juga merupakan salah seorang Maestro Android itu;

“Kopi apa yang paling enak disini?”

Dalam pikiranku waktu itu, kopi yang paling enak masih sejenis Mochaccino, Latte atau Cappuccino kesukaanku.

Ternyata bukan!

“Disini yang paling #josswow itu Kopi Wine.

Busyet!

Kopi wine? Wine yang anggur itu? Yang di film James Bond disebut Red Wine yang…. Haram itu? Pikirku panik.

Sepertinya, Sang Maestro melihat alis mataku yang mendadak terbang.

“Ini bukan wine beneran… Nggak ada alkoholnya kok… Ini Kopi Gayo beraroma Wine. Baunya yang harum kayak wine, tapi rasanya…. Cobain sendiri deh.”

Akupun mengangguk, antara pasrah dan penasaran.

Sang Maestro pun membuatkan kopi untukku. Kali ini, karena aku merasa kenal dengan empunya, aku pun iseng-iseng memperhatikan cara bikin kopi ala cafe itu kayak gimana.

Merasa diperhatikan, Sang Maestro malah dengan senang hati menceritakan proses detail bikin kopi; mulai dari pengaturan suhu air yang harus pas, lalu berapa gram kopinya, trus cara menuangnya yang diputer-puter pakai teko bermulut panjang, sampai asal-usul Kopi Gayo Wine itu darimana, juga dijelasin.

Seru juga ternyata. Cerita kopi tidak sekedar sebagai sebuah minuman, tapi bagian dari sejarah, tradisi dan juga gaya hidup.

Ketika disajikan, aku pun disuguhi sebuah kopi asapnya melayang lembut.

“Coba hirup aromanya,” Kata Sang Maestro.

Waktu saya hirup…

“Hhhhppp…. Aaaahhh…”

Beneran! Aromanya harum kayak wine!

Sekilas mirip dengan aroma anggur Cap Orang Tua yang sering diminum oleh pemuda-pemuda di kampungku kalau ada hajatan, biar bisa ‘goyang’ kata mereka.

Sekilas ragu kembali membersit di hatiku, beneran tanpa campuran wine yang mengandung alkohol ga nih?

“Coba disruput pelan-pelan, nikmati rasanya,” Instruksi Sang Maestro seperti ngajarin anak TK menggambar pemandangan dua gunung yang akhirnya tertanam di benaknya sampai dia jadi sarjana.

Kudekatkan mulutku ke ujung gelas, kuangkat pelan-pelan, rasa panas mendekati bibir, dan…

… Aku merasakan kopi PAHIT!!!

“Bah… Apa-apaan ini? Pahit… Huekk… Pleh.. Pleh…!!!”

Tentu saja adegan muntah itu cuma terjadi di benakku. Aku masih cukup sadar untuk sekedar membelalakkan mata sambil bergidik menelan kepahitan.

“Gimana? Enak ga?’ Sang Maestro bertanya lagi, kali ini entah bener tulus atau ingin menyiksaku dengan pahitnya kopi ini.

“Hmm…. Masih panas. Lidahku ga bisa minum panas-panas.” Jawabku diplomatis.

Sang Maestro pun tersenyum, dan beranjak untuk melayani pengunjung lain yang datang ke Kedai Burgayo Coffee.

“Emang harus ga pake gula ya?” Aku bertanya.

Sang Maestro bernama Andri Idaman #josswow itu pun menoleh;

“Paling enak kalau ngopi tanpa gula, biar kerasa aslinya”

Deg…!

Akupun menelan ludah. Mau pakai gula, tapi tidak terseedia di meja, sedangkan aku sudah terlanjur malu bertanya.

Masak harus ke Indomaret di sebelah buat beli gula sekilo? 

Akhirnya, sore itu pun kunikmati dengan ngobrol ngalor ngidul bareng sambil berjuang menghabiskan Kopi Gayo Wine yang harum namun pahitnya bikin bergidik sampai bikin meremang bulu romaku itu…

~

Ingatanku berkelana lagi…

Kali ini, saya diajak oleh seorang sahabat untuk bertemu gurunya, yang kelak juga menjadi guruku.

Kejadian ini baru 4 bulan lalu, waktu terakhir aku jadi Nomadian ke Jakarta, jadi masih membekas banget kesannya.

Aku dijemput di stasiun UI oleh sahabatku, mengendarai mobil kami pergi ke sebuah ‘cafe’ di Ciputat.

Sepanjang jalan dia menceritakan tentang profil gurunya tersebut. Sahabatku ini ingin mengenalkanku kepada beliau karena beliau sedang mengembangkan brand perusahaannya lewat digital marketing.

Kami pun sampai di Rotella Coffee Corner pada jam 10 pagi.

Ketika masuk, cafe tersebut terlihat sepi, di halaman malah tidak ada bangku meja layaknya cafe beneran. yang ada cuma sebuah saung untuk duduk santai.

Aku sempat berpikir kalau cafe ini seperti Din’s Kopi di Cakung yang awalnya rumah lalu dijadikan cafe khusus pemain Golf  profesional itu.

~

Baru ketika aku masuk ke dalam, aku tertawa dalam hati membaca papan sambutan di ruang tamu.

ROTELLA COFFEE CORNER
– MANUAL BREW –
—————–
V60 – Siphon – Tubruk – French Press – Turkish – Mockspot – Rockpresso – Mini / Monopresso

– DISCLAIMER –
Apa yang dibuat, berapa lama dibuat, kapan dibuat, itu suka-suka kami yang membuatnya.

~

Luar biasa cafe ini!

Dan yang lebih luar biasa adalah barista-nya, yaitu pak Prasetya M. Brata.

Beliau sendiri yang membuatkan kopi, menyeduhnya, bahkan menyajikannya ke atas meja.

Dan kali ini saya sudah cukup ‘siap’ menghadapi kopi pahit. Seenggaknya ga terlalu kelihatan bergidik ketika menelan kepahitan.

Siang itu, malah saya yang belajar banyak dari Pak Pras dan kopinya; tentang hidup, tentang melayani, tentang menjadi manusia.

Disitulah saya mengukirkan impian saya dalam hati untuk punya cafe seperti Rotella Coffee Corner.

Tapi impian itu harus dimulai langkah kecil…

…yaitu belajar minum kopi pahit.

~

Beberapa episode setelah itu, adalah fase-fase belajar minum kopi pahit.

Dimulai dari nyobain Americano Black tanpa gula di Janji Jiwa.

Sampai akhirnya ketemu Kopi Kepahiang yang pemiliknya adalah tetangga kakak ipar saya.

Disana saya diajari untuk minum kopi langsung dari dari biji yang sudah di-roast, di manual grind, lalu diseduh menggunakan alat drip coffee yang kelasnya dibawah V60 (buat pemula).

Pengalaman yang cukup seru buat saya, dan keinginan saya belajar minum kopi pahit makin membara.

~

Tapi apakah saya sudah berhasil?

Belum saudara-saudara…

Karena sampailah kita pada INTINYA!

Tulisan panjang-panjang di atas itu baru pembuka.

Untuk mencapai kesimpulan, bahwa dalam hidup, seringnya kita ingin hasil yang sekali jadi. Sekejap mendatangkan hasil.

Baru sekali nge-gym, sudah langsung ingin kurus.
Baru sekali bisnis, sudah langsung ingin sukses.
Baru sekali promosi, sudah langsung ingin dapat sales.
Baru sekali usaha, sudah langsung ingin ‘netes‘.

Yok ooopooo arek iki?!

Padahal, kebanyakan dari kita, tidak akan berhasil pada percobaan pertama. Tidak semua orang juga punya jatah ‘beginners luck’.

Jadi, usahlah kau berkeluh kesah dulu. Tahan-tahanlah emosimu dulu. Nikmatilah kegagalanmu dulu.

Kita tidak dituntut untuk berhasil besok kok.

Santai saja….
Tidak perlu buru-buru.

Fokus pada impian besarmu.
Fokus pada daily activity-mu.

Insyaallah, akan datang suksesmu.

~

Pagi ini, saat menunggu air mendidih, kubuka kemasan Kopi Kepahiang yang terasa premium itu, lalu kupindahkan dua sendok kopi ke dalam gelas.

Lalu, tibalah saat-saat yang menegangkan itu….

… Saat kulirik toples gula pasir.

Terjadi pergolakan dalam batin; apakah ini saatnya aku minum kopi pahit tanpa gula? Apakah aku siap menghabiskannya?

Kujangkau toples tersebut, dengan ragu kubuka tutupnya.

Hatiku terasa perih; akankah aku menyerah sekarang? Akankah aku menjadi pecundang?

Memang, ini cuma secangkir kopi.

Tapi inilah yang akan terbentuk menjadi sebuah kebiasaan.

Apakah aku kan terbiasa minum kopi bergula? Atau kopi pahit?

Inilah momen-momen yang menentukan.

Satu hal keciiil yang akan membuat perbedaan.

Akankah aku menyerah sekarang? Akankah aku menjadi pecundang?

~

Tiba-tiba…

Terlintaslah kesadaran itu!

Bahwa aku tidak dituntut untuk bisa minum kopi pahit sekarang juga.

Yang perlu aku lakukan adalah, 1% lebih baik dari hari kemarin.

Ya.. Itu dia!

Kemarin, aku masukkan dua sendok kopi, dan satu sendok gula.

Pagi ini, akan kubuat kopiku, dengan SETENGAH sendok gula saja.

Bukankah itu sudah LEBIH BAIK dari kemarin?

Kan aku tidak harus ‘sukses’ minum kopi pahit sekarang juga?

Masih ada hari esok yang untuk kembali mencoba dengan lebih baik dari hari ini.

Insyaallah…

~

Jadi…

Santai saja.
Tidak perlu buru-buru.

Fokus pada impian besarmu.
Fokus pada daily activity-mu.

Insyaallah, akan datang suksesmu.

 

@OmAndro
#nomadianlifestyle

Hai… Tunggu Sebentar!

Mau ikut tantangan 30 Hari Membangun Atomic Habit (Kebiasaan Mini) Yang Meningkatkan Diri Anda 1% (Satu Persen) Lebih Baik Dari Kemarin?

Rubah Diri Anda

Jadi orang baru dengan meninggalkan kebiasaan lama.

Sistem yang Teruji

Langkah demi langkah untuk berbenah.

Diri Anda Yang Terbaik

Kebiasaan baik akan membuat anda jadi orang yang lebih baik.

Tingkatkan PRODUKTIFITAS

Optimasi diri anda menjadi 1% lebih baik dari kemarin.

BUKU BESTSELLER MENURUT

Atomic Habit Best Seller

Prinsip Compound Effects

“Kebiasaan adalah ‘bunga-berbunga’ dari pengembangan diri. Sebagaimana uang yang berkembang biak menggunakan prinsip Compound Interest (bunga yang menghasilkan bunga lagi), efek dari kebiasan juga berkembang berkali-lipat setiap kali anda mengulanginya. Kebiasaan anda sepertinya hanya membuat sedikit perubahan bila dilihat dari hari ke hari, namun hasil yang anda dapatkan setelah berbulan-bulan menjalankannya akan sangat jauh berbeda.”

Merubah Identitas

“Anda mungkin memulai sebuah kebiasaan karena motivasi tertentu, tetapi perubahan sebenarnya adalah ketika kebiasaan tersebut ‘menempel’ menjadi bagian diri anda. Proses membentuk kebiasaan adalah proses membentuk identitas anda.”

Dapatkan Panduan Langkah Demi Langkah Untuk Berubah

Buku Atomic Habit adalah salah satu buku yang membantu saya untuk ‘Back On Track’ setelah mengalami kegagalan dalam hidup dan bisnis.

Apa yang diajarkan di buku ini berupa panduan dan strategi untuk membangun kebiasaan mini (sekecil atom) yang bila dilakukan terus akan merubah diri anda menjadi lebih baik setiap hari.

Di tantangan 30 Hari Atomic Habit Challenge, saya akan kirimkan materi dari buku tersebut yang bisa anda eksekusi saat ini juga. Masukkan email anda untuk mengikutimya!

​Full Ebook even includes following

​Donec vel leo viverra, laoreet

Lorem ipsum dolor sit amet, onsec tetur adipiscing elit.

amet, rutrum risus. hasel lus

​Morbi semper vulputate tincidunt. Mauris sodales.

vehicula nunc. Pellentesque

Lorem ipsum dolor sit amet, onsec tetur adipiscing elit.

​vivera laoeet spien, quis ulla​

Lorem ipsum dolor sit amet, onsec tetur adipiscing elit.

​sem mattis a Mae cenas la​

​Morbi semper vulputate tincidunt. Mauris sodales.

​con vallis sit amet cur susne​

Lorem ipsum dolor sit amet, onsec tetur adipiscing elit.

​Start with our first chapter, ​Completely free​! Learn first step in becoming digital nomad!

Copyright 2020 by Om Andro