1 Persen Lebih Baik Dari Diri Anda Yang Kemarin

Di artikel yang lalu, saya sudah menceritakan tentang tujuan kita yang sebenarnya, yaitu menuju keabadian. Entah yang abadi jiwanya, atau karyanya, tergantung apa yang anda percaya.

Dan kalau anda percaya bahwa anda sedang dalam perjalanan menuju keabadian, maka jangan terlalu memusingkan bekal apa yang perlu anda bawa.

Cukuplah bawa hati yang percaya bahwa Allah lebih tahu yang terbaik untuk anda, bahwa segala yang telah dan akan terjadi telah ter-maktub di lauhul mahfudz.

It is written.

Tulis Paulo Coelho dalam bukunya, The Alchemist.

Tapi, sebelum jauh perjalanan yang anda tempuh, ada satu hal yang mungkin mau anda lakukan; mengurangi beban yang dapat menghambat perjalanan.

Sekilo tidaklah berat, kecuali anda membawanya setiap saat.

Pernah ada seorang guru yang bertanya pada muridnya, “Menurut kamu, 1 kilogram itu berat tidak?”

Si murid menjawab dengan percaya diri, “Saya masih muda dan kuat, maka 1 kilogram itu tidaklah berat.”

Sang Guru pun meminta murid tersebut untuk mengambil batu seberat 1 kilogram, lalu merentangkan tangannya ke depan, dengan batu tersebut dalam genggaman.

1 menit pertama, si murid masih kuat.

2 menit berikutnya, si murid mulai berkeringat.

5 menit berlalu, si murid sudah menyerah, sang guru tersenyum sesaat.

“Begitulah, beban yang tidak berat, tapi apabila kamu membawanya cukup lama, beban tersebut akan bertambah berat”

Beban itulah yang selama ini mungkin tidak disadari adanya, sehingga perjalanan anda selalu terhambat.

Sadari apa yang selama ini membebani anda.

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat postingan salah seorang mentor saya yang sedang semangat melakukan sebuah aktivitas. Setahun belakangan, blio memang cukup konsisten melakukan aktivitas tersebut, sehingga saat ini hasilnya sudah terlihat.

Yang saya kagumi dari beliau adalah konsistensinya melakukan suatu hal yang menurut saya berat. Belum lagi, kami sama-sama dari Klan Insting, yang cukup dikenal dengan tidak konsisten dan kurang fokus.

Saya pun menyapa dan bertanya, apa yang membuat blio bisa bertahan sejauh ini?

Blio menjawab, “Kebanyakan orang lembut ke diri sendiri, keras ke orang lain. Harusnya terbalik”

Jawaban blio tersebut muncul karena saya menceritakan kegagalan-kegagalan yang terjadi karena saya terlalu permisif terhadap diri sendiri.

Sikap permisif, alias mudah memaafkan, ini memang kebalikan dari sikap keras dan tegas. Orang yang cenderung permisif, akan mudah memaafkan dan melupakan kesalahan, tapi jadinya ya itu; terlihat lemah dan lembek.

Dan blio juga bilang, selama masih bisa memaafkan diri sendiri, maka seseorang tidak akan bisa mencapai sesuatu yang BESAR.

Jawaban blio membuat saya memikirkan dalam-dalam tentang paradoks ini;

Di satu sisi, sikap keras (hard on yourself) adalah cara yang paling tepat untuk mencapai goal-goal besar. Tapi itu juga cara tercepat untuk mengalami frustasi.

Bayangkan bila anda baru saja gagal, lalu anda menyalahkan diri sendiri, yang menyebabkan anda kecewa terhadap diri anda, dan itu bertambah-tambah seiring banyaknya kegagalan yang anda alami.

Di sisi lain, sikap permisif (forgive yourself) akan membuat anda terlalu lemah dan lembek, tidak ngotot, easy going, cuek bahkan terlihat seperti tidak punya tujuan hidup.

Titik tengah: maafkan diri anda yang kemarin, tegas terhadap diri anda hari ini.

Saya percaya bahwa tidak ada nasihat yang salah, hanya saja nasihat tertentu cocok untuk kondisi tertentu, alias situasional. Tidak baku. Tidak kaku.

Saya menemukan keseimbangan setelah bertanya kepada beberapa mentor lain yang memiliki sudut pandang lain tentang masalah ini.

Hasilnya, sikap permisif atau memaafkan perlu anda pakai untuk diri kita yang kemarin gagal. Inilah caranya melepaskan beban 1 kilogram yang selama ini tidak anda sadari dan kita bawa kemana-mana.

Tidak perlu dinego lagi, diri anda yang kemarin tidak akan bisa menjadi lebih baik lagi, tidak akan bisa dirubah, diperbaiki, karena yang semestinya terjadi sudah terjadi. It is written. Titik.

Tetapi, diri anda hari ini, yang saat ini sedang membaca tulisan, sedang berpikir dan menimbang-nimbang, masih bisa berbuat sesuatu yang lebih baik lagi.

Jadi, anda perlu keras terhadap diri anda hari ini. Minimal, perlu ditegaskan supaya tidak menyerah menjadi lebih baik dari diri anda yang kemarin, meskipun cuma 1 persen.

1 persen lebih baik setiap hari sama dengan peningkatan 37 kali lipat dalam setahun

Teori 1 persen ini dipopulerkan kembali oleh James Clear, di bukunya Atomic Habits. Meskipun cuma 1 persen perbaikan yang anda alami setiap hari, selama itu konsisten, maka dalam setahun anda akan mengalami peningkatan sebesar 37 kali lipat. Itulah yang disebut dengan Compound Effect.

Tapi sebaliknya, 1 persen lebih buruk, apabila dilakukan terus-menerus, akan membuat anda terpuruk di angka nyari 0. Hampir habis tak bersisa.

Begitu anda memahami konsep ini, maka hidup anda akan lebih terukur.

Saya bersyukur karena kesalahan dan kegagalan yang saya alami tidak akan langsung terlihat dampaknya besok pagi. Namun saya juga perlu belajar lebih sabar sebelum aksi yang konsisten saya lakukan menunjukkan hasil yang nyata.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah, apakah hal spesifik yang perlu saya tingkatkan 1% lebih baik setiap hari?

What is your unique, god-given superpower?

Saat mentoring Job from Heaven kemarin, saya kembali disadarkan bahwa kita dilahirkan ke dunia karena mengemban misi (job, amanah) dari ‘langit’.

Oleh karena itu, sebagai ‘khalifah fil ardh‘ (pemimpin di bumi), maka kita sudah pasti dibekali dengan ‘super power‘ (bakat, talent) yang sesuai dengan tugas spesifik yang kita miliki.

Saya berharap, dengan ibarat di atas, anda memahami bahwa sebenarnya setiap orang memiliki super power yang unik, yang diberikan oleh Tuhan sejak lahir.

Permasalahan selalu timbul ketika anda tidak tahu super power apa yang anda miliki, atau bahkan tidak tahu tugas apa yang ingin anda emban di muka bumi.

Untuk masalah yang kedua, anda bisa ikut mentoring Job from Heaven karena hal tersebut tidak bisa saya jabarkan saat ini.

Membahas tentang Job from Heaven ini memang tidak bisa sepintas lalu, karena akan mudah disalah-artikan bila tidak paham. Bila anda ingin berdiskusi lebih lanjut, kita ngobrol aja ya.

Tapi untuk masalah yang pertama, anda bisa mengenali superpower anda melalui beberapa cara;

A. STIFIn

Tidak salah lagi, menggunakan tes STIFIn adalah cara termudah dan tercepat untuk menguak superpower yang tersembunyi dalam genetika anda. Dengan mengetahui Klan di STIFIn (saya Insting, by the way) akan memudahkan anda menganalisa bakat dan talent anda berdasarkan 5 Mesin Kecerdasan (MK) yang ada.

STIFIn sendiri adalah singkatan dari Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Insting.

Ke 5 Mesin Kecerdasan tersebut mewakili 5 belahan otak, dan kita cenderung menggunakan 1 bagian otak lebih aktif daripada bagian yang lain. Misalnya, orang yang ber Mesin Kecerdasan Thinking lebih aktif menggunakan otak kiri atas (neokorteks) sehingga mereka cenderung lebih logis, obyektif dan kuat di analisa.

Ada beberapa alasan mengapa STIFIn menjadi pilihan pertama untuk mengetahui superpower kita.

Yang pertama, karena STIFIn itu mudah. Tes STIFIn menggunakan metode finger print (sidik jari), seperti ketika anda membuat SIM atau KTP, cukup di scan dan hasilnya akan muncul beberapa menit kemudian.

Yang kedua, hasil yang akurat secara genetik. Berbeda dengan tes kepribadian lain yang menggunakan kuesioner, hasil tes STIFIn bisa jadi lebih akurat karena menggunakan alat ukur yang tetap dan tidak akan berubah; sidik jari.

Sedangkan bila menggunakan kuesioner, ada kecenderungan hasilnya berubah-ubah sesuai dengan jawaban yang kita pilih dan kondisi kita ketika menjawabnya.

Yang ketiga, penjelasan yang cukup lengkap tentang potensi dasar manusia. Ini yang paling kita perlukan saat ini, memahami diri sendiri. Literatur dan pembahasan STIFIn cukup banyak tersedia dan bila perlu, masih ada Konsultan dan Promotor yang siap membantu.

Memahami talent dan bakat genetik ini menjadi pondasi awal sebelum kita jauh berjalan. Mungkin ada ketidak-cocokan yang akan anda rasakan ketika mengetahui hasil tes STIFIn anda, tetapi dengan mengetahui secara garis besar potensi yang anda miliki, serta kesempatan (opportunity) yang bisa anda kembangkan dengan potensi tersebut, akan membantu anda memutuskan hal apa yang mau anda asah menjadi 1 persen lebih baik setiap hari.

B. Talent Mapping

Ketika berdiskusi dengan sahabat seperjalanan, Om Ari Eko Prasethio, tentang kecenderungan saya menggunakan STIFIn sebagai titik awal mengenal diri, beliau menyarankan untuk mencoba mempelajari tentang Talent Mapping.

Saya sendiri pernah ikut tes Talent Mapping bersama Om Angga Prayoga dari MentoringBakat.com dan belum terlalu mendalami tentang hal ini.

Tetapi, dari hasil tes yang saya dapatkan, saya mendapatkan gambaran yang cukup detail tentang kekuatan dan kelemahan saya. Berikut ini adalah 7 bakat teratas yang saya miliki:

  1. ACTIVATOR
  2. ADAPTABILITY
  3. FUTURISTIC
  4. IDEATION
  5. DEVELOPER
  6. SELF-ASSURANCE
  7. SIGNIFICANCE

Masih ada sejumlah total 34 bakat yang dijelaskan di Talent Mapping, termasuk 7 kelemahan terbesar yang membuat saya meringis dan mengangguk dalam ketika mengetahuinya. Lebih lanjut tentang Talent Mapping mungkin akan saya bahas di artikel-artikel berikutnya.

C. MBTI atau 16 Personalities

Saya mengenal MBTI beberapa tahun lalu dan menurut saya ini adalah salah satu cara yang cukup mudah untuk mengetahui karakter kita, tetapi menurut saya kurang akurat.

Waktu awal dulu saya tes, hasil yang saya dapatkan adalah ENFP (Campaigner), dan ketika saya tes ulang ketika menulis artikel ini, hasilnya berubah menjadi INFP (Mediator). Selain itu, saya pernah melakukan tes 2 tahun lalu dan hasilnya pun berbeda tapi saya lupa hasil tepatnya.

Saya melihat MBTI hanya sebagai tes pelengkap karena ketidak-akuratannya (menurut saya), karena akan sangat berbahaya bila anda mengira superpower anda adalah A, lalu anda asah habis-habisan, ternyata di kemudian hari superpower anda berubah jadi B. Meskipun hal tersebut bisa dijelaskan dengan mudah; orang berubah menjadi lebih baik / buruk setelah menghadapi masalah hidup.

Intinya, untuk mengasah 1 persen superpower anda setiap hari, saya lebih menyarankan dengan hal yang lebih pasti, bukan tebak-tebakan.

D. Kaleris, Sanguinis, Plegmatis & Melankolis

Dulu sekali, saya mengenal 4 tipe kepribadian ini dari buku Personality Plus yang menjadi buku wajib untuk pebisnis network marketing pemula. Pengetahuan tentang 4 tipe kepribadian inilah yang menjadi patokan saya memahami manusia sebelum mengenal STIFIn.

Saya dulu mendefinisikan diri sebagai Plegmatis-Melankolis berdasarkan keterangan yang saya baca di buku tersebut. Detailnya mengapa, saya pun sudah lupa. 4 tipe kepribadian ini cukup mudah digunakan sebagai patokan ketika kenalan dengan orang baru karena jumlahnya yang sedikit.

Tetapi bila tujuan anda untuk mengasah diri menjadi 1 persen lebih baik setiap hari, 4 tipe tersebut jadi sulit untuk di optimasi karena pengkategoriannya terlalu umum dan kurang spesifik.

Mengapa perlu mengetahui BAKAT, POTENSI & TALENT (superpower) sebelum mulai berjalan?

Pengetahuan tentang diri sendiri adalah pengetahuan yang amat mahal, pencarian jati diri adalah tema yang tak pernah habis dibahas karena sudah menjadi hasrat terdalam seseorang untuk mengetahui dari mana dia berasal dan kemana dia pergi.

Itulah mengapa buku tentang self-development sangat laris di pasaran, juga kelas-kelas pengembangan diri dan motivasi selalu ada peminatnya.

Saya merasa pentingnya mengetahui bakat, potensi dan talent yang kita miliki karena beberapa alasan;

1. Barangsiapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya.

Di satu titik dalam pengembaraan mencari jati diri, saya jatuh hati pada dunia tasawwuf. Salah satu ide yang masih menempel dalam kepala saya adalah konsep ‘mengenal diri dulu, baru mengenal Allah’.

Konsep ini menekankan pentingnya mengenal ‘sejati diri’ sebelum menggunakannya untuk menjalani syariat, menapaki tangga tarikat, menguak tabir hakikat dan memahami makrifat. Tetapi lagi-lagi, pembicaraan tentang hal ini tidaklah seru bila tidak dilakukan sembari duduk, ‘ngrasani Allah’ sambil ngopi. Jadi detailnya akan saya simpan dan bisa kita diskusikan bilamana kita bersua nanti.

Tapi dari konsep ini, saya meyakini bahwa apapun yang akan kita alami selama perjalanan hidup, tidak lain adalah cara Allah untuk mengenalkan Diri-Nya, melalui pemahaman tentang diri kita sendiri. Tentang kelebihan dan kekurangan kita, tentang impian (roja’) dan ketakutan (khouf) kita, tentang sifat, karakter, pikiran dan perasaan kita.

2. Fixed Mindset vs Growth Mindset

Dari timur, kita menuju barat. Disana saya bertemu dengan sebuah konsep tentang Growth Mindset. Saya membacanya pertama kali di buku GRIT karangan Angela Duckworth, yang mengutip penelitian seorang profesor bernama Carol Dweck.

Carol Dweck membagi mindset orang menjadi 2 kelompok, yang pertama Fixed Mindset, alias orang yang menganggap bahwa potensi dan bakat yang dimilikinya bersifat permanen, tidak bisa dirubah atau dikembangkan lebih lanjut.

Kebalikannya, kelompok kedua berpendapat bahwa dengan usaha yang gigih dan konsisten, seseorang bisa meningkatkan kemampuan, mengembangkan potensi, meningkatkan kecerdasan dan bakatnya. Kelompok kedua disebut memiliki Growth Mindset.

Intinya, mengetahui bakat, talent dan potensi (superpower) saja tidak cukup, anda perlu melakukan sesuatu untuk mengasahnya, meningkatkannya, membuatnya lebih baik.

Ibaratnya, memiliki pedang Katana tidak membuat anda seorang Samurai. Anda perlu berlatih dengan keras untuk menjadi ahli pedang yang hebat.

3. Rubah identitas, bukan sekedar kebiasaan

Bayangkan apabila anda saat ini punya pedang Katana, apakah anda akan segera berlatih keras setiap hari?

Belum tentu, karena anda bukanlah seorang Samurai, atau bahkan tidak pernah terlintas di pikiran anda untuk menjadi seorang ahli pedang!

Itulah yang disebut identitas.

Rumus 1 persen lebih baik akan menjadi sangat bermanfaat apabila anda tahu, anda ingin menjadi apa?

Apakah anda ingin menjadi seorang penulis? Pebisnis? Pengajar? Profesional? Investor? Agamawan?

Setelah mengikuti mentoring di Job from Heaven, saya memutuskan untuk menjalani gaya hidup Nomadian, yang berprofesi sebagai Edutainer, dan mengajak sebanyak mungkin orang menjadi seorang Proudactivist.

Nomadian adalah gaya hidup yang tidak terikat tempat untuk berkarya, selama anda bisa mengakses internet, disana anda bisa bekerja dan memproduksi karya apapun yang anda mau.

Profesi saya adalah Edutainer, bukan pebisnis. Karena dalam hati yang terdalam, saya merasa diri saya lebih suka aktivitas belajar-mengajar daripada menjual sesuatu. Adapun kalau akhirnya saya jualan, itu semata karena kebutuhan untuk membeli kopi dan susu.

Dan syiar saya yang utama adalah menyebarkan konsep ProudActivist, yaitu bagaimana seseorang bisa meninggalkan sesuatu yang membuat dirinya (dan keluarga) bangga = proud.

Saya ingin anda yang membaca tulisan ini sampai akhir, juga bisa meninggalkan warisan yang tidak hanya berupa harta, tapi juga karya dan investasi amal yang menjadi passive income selama-lamanya.

“Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Anda mati meninggalkan….?”

Itu adalah pertanyaan yang perlu anda jawab sendiri.

Hai… Tunggu Sebentar!

Mau ikut tantangan 30 Hari Membangun Atomic Habit (Kebiasaan Mini) Yang Meningkatkan Diri Anda 1% (Satu Persen) Lebih Baik Dari Kemarin?

Rubah Diri Anda

Jadi orang baru dengan meninggalkan kebiasaan lama.

Sistem yang Teruji

Langkah demi langkah untuk berbenah.

Diri Anda Yang Terbaik

Kebiasaan baik akan membuat anda jadi orang yang lebih baik.

Tingkatkan PRODUKTIFITAS

Optimasi diri anda menjadi 1% lebih baik dari kemarin.

BUKU BESTSELLER MENURUT

Atomic Habit Best Seller

Prinsip Compound Effects

“Kebiasaan adalah ‘bunga-berbunga’ dari pengembangan diri. Sebagaimana uang yang berkembang biak menggunakan prinsip Compound Interest (bunga yang menghasilkan bunga lagi), efek dari kebiasan juga berkembang berkali-lipat setiap kali anda mengulanginya. Kebiasaan anda sepertinya hanya membuat sedikit perubahan bila dilihat dari hari ke hari, namun hasil yang anda dapatkan setelah berbulan-bulan menjalankannya akan sangat jauh berbeda.”

Merubah Identitas

“Anda mungkin memulai sebuah kebiasaan karena motivasi tertentu, tetapi perubahan sebenarnya adalah ketika kebiasaan tersebut ‘menempel’ menjadi bagian diri anda. Proses membentuk kebiasaan adalah proses membentuk identitas anda.”

Dapatkan Panduan Langkah Demi Langkah Untuk Berubah

Buku Atomic Habit adalah salah satu buku yang membantu saya untuk ‘Back On Track’ setelah mengalami kegagalan dalam hidup dan bisnis.

Apa yang diajarkan di buku ini berupa panduan dan strategi untuk membangun kebiasaan mini (sekecil atom) yang bila dilakukan terus akan merubah diri anda menjadi lebih baik setiap hari.

Di tantangan 30 Hari Atomic Habit Challenge, saya akan kirimkan materi dari buku tersebut yang bisa anda eksekusi saat ini juga. Masukkan email anda untuk mengikutimya!

​Full Ebook even includes following

​Donec vel leo viverra, laoreet

Lorem ipsum dolor sit amet, onsec tetur adipiscing elit.

amet, rutrum risus. hasel lus

​Morbi semper vulputate tincidunt. Mauris sodales.

vehicula nunc. Pellentesque

Lorem ipsum dolor sit amet, onsec tetur adipiscing elit.

​vivera laoeet spien, quis ulla​

Lorem ipsum dolor sit amet, onsec tetur adipiscing elit.

​sem mattis a Mae cenas la​

​Morbi semper vulputate tincidunt. Mauris sodales.

​con vallis sit amet cur susne​

Lorem ipsum dolor sit amet, onsec tetur adipiscing elit.

​Start with our first chapter, ​Completely free​! Learn first step in becoming digital nomad!

Copyright 2020 by Om Andro